Alhamdulillah Ya Allah
Malam Jum’at adalah
malam yang buruk buatku, gara-gara keserakahanku laptopku jadi bermasalah.
Malam itu aku download sebuah aplikasi, kemudian ku install dilaptop warna
putih kesayanganku. Tapi ntah mengapa setelah selesai menginstal, laptopku jadi
tidak bisa merespon apa yang ku inginkan alias not responding. Ku pikir ini
hanya hal biasa, kemudian ku shut down laptopku, dengan harapan laptopku bisa
kembali seperti semula. Tapi harapanku sia-sia, laptopku tetap tidak merespon
apa yang ku inginkan. Ku shut down lagi laptopku, dengan harapan yang sama,
tapi hasilnya nihil. Tapi kutakkan menyerah kulakukan itu berulang-ulang, tetap
dengan hasil yang sama. Nampaknya laptopku masih marah padaku, sehingga ia tak
menuruti keinginanku. Perasaanku mulai kacau, aku takut terjadi apa-apa dengan
laptop putih kesayanganku. “Ya Allah kenapa ini? Disaat aku tidak punya uang
kau uji aku dengan ini.” Bisik hati kecilku berkata.
Kumatikan laptopku,
sengaja ku tidah hidupkan lagi, kutaro dilemari tempatku biasa menyimpan
laptopku. Kupikir mungkin laptopku lelah, makanya dia butuh istirahat.
Kemudian kutarik selimut warna biru itu, kurebahkan badanku di atas kasur,
dengan harapan aku bisa tidur dan melupakan kejadian malam ini. Lagi-lagi harapanku
sia-sia, malam itu aku tidak bisa tidur, pikiranku kemana-mana, memikirkan
laptop kesayanganku. Aku takut laptopku bernasib sama seperti teman-temanku
yang mengeluarkan uang ratusan ribu untuk memperbaiki laptopnya. Aku pikir tak
masalah jika aku punya uang, tapi nyatanya kondisi ke uanganku lagi kritis. Aku
pikir jika meminta uang kepada orang tua, bukan solusi yang tepat. Apalagi jika
alasannya untuk memperbaiki laptop, pasti orang tuaku akan menanyakan bukanya
laptop kamu baru? Masa sudah rusak. Terbayang-bayang di depan mukaku, bagaimana
orang tuaku memarahiku, apalagi muka ayahku. Maklum saja aku mempunyai
pengalaman buruk dengan ayahku, aku pernah dipukuli gara-gara aku tidak mau
pergi ngaji, sampai aku kabur dari rumah untuk beberapa hari. Aku pikir dengan
ku kabur dari rumah, orang tuaku akan mencariku, dan meminta maaf padaku. Tapi
nyatanya, sampai hari kedua pelarianku dari rumah, orang tuaku tidak mencariku.
Jangankan mencariku, menanyakan kabarku pada teman-temanku pun tidak. Akhirnya
kuputuskan untuk kembali ke rumah, karna kupikir bete juga aku kabur dari rumah tanpa ada tujuan yang jelas. Semenjak
kejadian itu, aku tak mau lagi bermasalah dengan ayahku. Akhirnya ku coret opsi
meminta uang pada orang tuaku.
Pikiranku kemana-mana,
malam itu yang kupikirkan negative semua, sampai akhirnya aku ketiduran. Dalam
tidurku pun aku bermimpi tentang laptopku, sampai-sampai beberapa kali aku
terjaga dari tidurku. Tak terasa alarm di ponselku berbunyi, membangunkan
tidurku, kulihat jam diponselku menunjukan angka 04:40 AM. Ku singkirkan selimut
yang menyelimutiku, ku buka lemari yang menyimpan laptopku, kuhidupkan laptopku
dengan harapan laptopku bisa kembali seperti semula. Harapan tinggallah
harapan, ternyata laptopku masih marah padaku, rasanya ingin ku banting laptop
ini. Tapi ku ingat orang tuaku yang telah susah payah membelikan laptop ini
untukku. Kuurungkan niatku tersebut, dan kuputuskan untuk menservice
laptopku.
Adzan shubuh telah
berkumandang menandakan telah masuk waktu sholat shubuh. Seperti biasa aku
bersiap-siap untuk pergi ke masjid, kebetulan masjidnya masih berada
dilingkungan kampusku. Diperjalanan menuju masjid pun aku tetap memikirkan
laptopku, bagaimana caranya agar laptopku bisa seperti semula? Sampai tak terasa
aku pun sudah sampai di pintu masjid, seperti biasa kulihat hanya orang-orang
itu saja yang sholat shubuh berjamaah di masjid. terlintas dibenakku,
seandainya para penghuni asrama pada sholat shubuh di masjid, pasti masjid ini
akan penuh sesak. Tapi akankah itu benar-benar terjadi? Ataukah cuma mimpi
belaka? Allahu’alam hanya Allah yang tahu. Iqomah pun telah diperdengarkan
pertanda sholat shubuh berjamaah akan dimulai. Pagi itu yang menjadi imam ka
Fiqri, dia adalah Presma di kampusku. Mahasiswa semester akhir itu biasa di
panggil ka Fiqri, tapi aku sendiri memanggil dia dengan panggilan guru. Ntah
bagaimana ceritanya aku memanggil dia guru? Yang pasti hanya Allah, aku, dan
dia yang tahu.
Sholat shubuh berjamaahpun telah selesai, seperti biasa sebelum balik ke asrama, aku mengobrol dengan
teman-temanku. Kuceritakan permasalan yang sedang kualami, mereka pun
menyarankanku membawa laptopku ke UPI Net untuk diperbaiki, katanya disana
murah dan bisa ditawar pula. Ku pikir saran mereka bagus juga, sesuai dengan
isi dompetku. Akhirnya ku putuskan untuk membawa laptopku ke UPI Net, dengan
harapan laptopku bisa seperti semula dengan biaya murah pula. Kulihat jam di
ponselku menunjukan angka 06:00 AM. Ingin rasanya kupercepat jam itu ke angka
delapan, karna setauku UPI Net buka jam delapan. Kurang lebih dua jam aku
menunggu, selama itu pula pikiranku bertanya-tanya? Kira-kira berapa biaya yang
haruskan kukeluarkan untuk memperbaiki laptopku, aku takut uang yang ku punya tidak
cukup. Hingga tak terasa jam di ponselku sudah ke angka delapan, kuputuskan
untuk segera pergi ke UPI Net. Sesampainya di UPI Net atau lebih dikenal degan
sebutan UPIN oleh mahasiswa, lagi-lagi aku harus menghela nafas karena UPI Net
belum buka. Akhirnya ku putuskan untuk menunggu di depan UPI Net,”untung hari
ini tidak ada kuliah.”dalam hatiku berkata.
Sudah 30 menit aku
menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda UPI Net akan buka. Kulihat mahasiswa
berjalan dihadapanku, sambil pandangan mereka tertuju padaku. ku pikir apa yang
mereka lihat dariku? Ada yang anehkah penampilanku hari ini. Bodo ahh, pandangan mereka tak ku hiraukan, yang
ada dalam benakku saat ini adalah bagaimana laptopku bisa kembali seperti
semula. Sampai akhirnya ada temanku yang menyapaku, dia ketawa melihatku. “kenapa
ini orang, datang-datang udah ketawa.” Bisik hati kecilku berkata. Ternyata dia
ketawa melihat penampilanku, yang katanya seperti belum mandi? “astagfirullah
saking pusingnya mikirin laptop, sampai-sampai mandi pun aku lupa.” Bisiku
dalam hati. Akhirnya dengan muka malu aku berkata: “hehehe di asrama kaga ada
air, maklum lah kehidupan asrama seperti apa?” akhirnya dia pun pergi setelah
mendengar penjelasanku. Akhirnya aku mengerti, kenapa pandangan para mahasiswa
tertuju padaku. aku pun hanya bisa menunduk menahan malu, ingin rasanya ku
pergi dari bumi ini, menuju planet lain.
Akhirnya orang yang ku
tunggu datang juga, dia adalah petugas UPI Net yang sehari-hari biasa menjaga
UPI Net. Ku lihat jam diponselku menunjukan angka sembilan, kurang lebih satu
jam aku menunggu disini. Petugas pun membuka UPI Net, aku pun langsung masuk ke
dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ku lihat petugas UPI Net itu keluar
lagi, “mungkin dia mengambil sesuatu.” Bisikku dalam hati. Ku hidupkan PC yang
ada di depaku, ku pikir sambil menunggu petugas UPI Net, mending aku facebookan
dulu. Ku buka akun facebookku, ku lihat tidak ada pemberitahuan ataupun status
teman yang menarik. Saat itu facebook terasa hambar bagiku, karena yang ku
pikirkan hanya laptopku. “ini orang kemana sh? Lama banget.” Aku pun berbicara
sendiri. UPI Net pun mulai dipenuhi oleh para mahasiswa yang mencari akses
internet gratis, merekapun bertanya kepadaku tentang petugas UPI Net, ku jawab
saja “aku tidak tahu.” Lama-lama bosen juga menunggu disini tanpa kepastian, ku
pikir mending aku mandi dulu.
To Be Continue :)