Jumat, 11 April 2014

Alhamdulillah Ya Allah. :)

Alhamdulillah Ya Allah

Malam Jum’at adalah malam yang buruk buatku, gara-gara keserakahanku laptopku jadi bermasalah. Malam itu aku download sebuah aplikasi, kemudian ku install dilaptop warna putih kesayanganku. Tapi ntah mengapa setelah selesai menginstal, laptopku jadi tidak bisa merespon apa yang ku inginkan alias not responding. Ku pikir ini hanya hal biasa, kemudian ku shut down laptopku, dengan harapan laptopku bisa kembali seperti semula. Tapi harapanku sia-sia, laptopku tetap tidak merespon apa yang ku inginkan. Ku shut down lagi laptopku, dengan harapan yang sama, tapi hasilnya nihil. Tapi kutakkan menyerah kulakukan itu berulang-ulang, tetap dengan hasil yang sama. Nampaknya laptopku masih marah padaku, sehingga ia tak menuruti keinginanku. Perasaanku mulai kacau, aku takut terjadi apa-apa dengan laptop putih kesayanganku. “Ya Allah kenapa ini? Disaat aku tidak punya uang kau uji aku dengan ini.” Bisik hati kecilku berkata. 

Kumatikan laptopku, sengaja ku tidah hidupkan lagi, kutaro dilemari tempatku biasa menyimpan laptopku. Kupikir mungkin laptopku lelah, makanya dia butuh istirahat. Kemudian kutarik selimut warna biru itu, kurebahkan badanku di atas kasur, dengan harapan aku bisa tidur dan melupakan kejadian malam ini. Lagi-lagi harapanku sia-sia, malam itu aku tidak bisa tidur, pikiranku kemana-mana, memikirkan laptop kesayanganku. Aku takut laptopku bernasib sama seperti teman-temanku yang mengeluarkan uang ratusan ribu untuk memperbaiki laptopnya. Aku pikir tak masalah jika aku punya uang, tapi nyatanya kondisi ke uanganku lagi kritis. Aku pikir jika meminta uang kepada orang tua, bukan solusi yang tepat. Apalagi jika alasannya untuk memperbaiki laptop, pasti orang tuaku akan menanyakan bukanya laptop kamu baru? Masa sudah rusak. Terbayang-bayang di depan mukaku, bagaimana orang tuaku memarahiku, apalagi muka ayahku. Maklum saja aku mempunyai pengalaman buruk dengan ayahku, aku pernah dipukuli gara-gara aku tidak mau pergi ngaji, sampai aku kabur dari rumah untuk beberapa hari. Aku pikir dengan ku kabur dari rumah, orang tuaku akan mencariku, dan meminta maaf padaku. Tapi nyatanya, sampai hari kedua pelarianku dari rumah, orang tuaku tidak mencariku. Jangankan mencariku, menanyakan kabarku pada teman-temanku pun tidak. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke rumah, karna kupikir bete juga aku kabur dari rumah tanpa ada tujuan yang jelas. Semenjak kejadian itu, aku tak mau lagi bermasalah dengan ayahku. Akhirnya ku coret opsi meminta uang pada orang tuaku.

Pikiranku kemana-mana, malam itu yang kupikirkan negative semua, sampai akhirnya aku ketiduran. Dalam tidurku pun aku bermimpi tentang laptopku, sampai-sampai beberapa kali aku terjaga dari tidurku. Tak terasa alarm di ponselku berbunyi, membangunkan tidurku, kulihat jam diponselku menunjukan angka 04:40 AM. Ku singkirkan selimut yang menyelimutiku, ku buka lemari yang menyimpan laptopku, kuhidupkan laptopku dengan harapan laptopku bisa kembali seperti semula. Harapan tinggallah harapan, ternyata laptopku masih marah padaku, rasanya ingin ku banting laptop ini. Tapi ku ingat orang tuaku yang telah susah payah membelikan laptop ini untukku. Kuurungkan niatku tersebut, dan kuputuskan untuk menservice laptopku.

Adzan shubuh telah berkumandang menandakan telah masuk waktu sholat shubuh. Seperti biasa aku bersiap-siap untuk pergi ke masjid, kebetulan masjidnya masih berada dilingkungan kampusku. Diperjalanan menuju masjid pun aku tetap memikirkan laptopku, bagaimana caranya agar laptopku bisa seperti semula? Sampai tak terasa aku pun sudah sampai di pintu masjid, seperti biasa kulihat hanya orang-orang itu saja yang sholat shubuh berjamaah di masjid. terlintas dibenakku, seandainya para penghuni asrama pada sholat shubuh di masjid, pasti masjid ini akan penuh sesak. Tapi akankah itu benar-benar terjadi? Ataukah cuma mimpi belaka? Allahu’alam hanya Allah yang tahu. Iqomah pun telah diperdengarkan pertanda sholat shubuh berjamaah akan dimulai. Pagi itu yang menjadi imam ka Fiqri, dia adalah Presma di kampusku. Mahasiswa semester akhir itu biasa di panggil ka Fiqri, tapi aku sendiri memanggil dia dengan panggilan guru. Ntah bagaimana ceritanya aku memanggil dia guru? Yang pasti hanya Allah, aku, dan dia yang tahu.

Sholat shubuh berjamaahpun telah selesai, seperti biasa sebelum balik ke asrama, aku mengobrol dengan teman-temanku. Kuceritakan permasalan yang sedang kualami, mereka pun menyarankanku membawa laptopku ke UPI Net untuk diperbaiki, katanya disana murah dan bisa ditawar pula. Ku pikir saran mereka bagus juga, sesuai dengan isi dompetku. Akhirnya ku putuskan untuk membawa laptopku ke UPI Net, dengan harapan laptopku bisa seperti semula dengan biaya murah pula. Kulihat jam di ponselku menunjukan angka 06:00 AM. Ingin rasanya kupercepat jam itu ke angka delapan, karna setauku UPI Net buka jam delapan. Kurang lebih dua jam aku menunggu, selama itu pula pikiranku bertanya-tanya? Kira-kira berapa biaya yang haruskan kukeluarkan untuk memperbaiki laptopku, aku takut uang yang ku punya tidak cukup. Hingga tak terasa jam di ponselku sudah ke angka delapan, kuputuskan untuk segera pergi ke UPI Net. Sesampainya di UPI Net atau lebih dikenal degan sebutan UPIN oleh mahasiswa, lagi-lagi aku harus menghela nafas karena UPI Net belum buka. Akhirnya ku putuskan untuk menunggu di depan UPI Net,”untung hari ini tidak ada kuliah.”dalam hatiku berkata.

Sudah 30 menit aku menunggu, tetapi belum ada tanda-tanda UPI Net akan buka. Kulihat mahasiswa berjalan dihadapanku, sambil pandangan mereka tertuju padaku. ku pikir apa yang mereka lihat dariku? Ada yang anehkah penampilanku hari ini. Bodo ahh, pandangan mereka tak ku hiraukan, yang ada dalam benakku saat ini adalah bagaimana laptopku bisa kembali seperti semula. Sampai akhirnya ada temanku yang menyapaku, dia ketawa melihatku. “kenapa ini orang, datang-datang udah ketawa.” Bisik hati kecilku berkata. Ternyata dia ketawa melihat penampilanku, yang katanya seperti belum mandi? “astagfirullah saking pusingnya mikirin laptop, sampai-sampai mandi pun aku lupa.” Bisiku dalam hati. Akhirnya dengan muka malu aku berkata: “hehehe di asrama kaga ada air, maklum lah kehidupan asrama seperti apa?” akhirnya dia pun pergi setelah mendengar penjelasanku. Akhirnya aku mengerti, kenapa pandangan para mahasiswa tertuju padaku. aku pun hanya bisa menunduk menahan malu, ingin rasanya ku pergi dari bumi ini, menuju planet lain.

Akhirnya orang yang ku tunggu datang juga, dia adalah petugas UPI Net yang sehari-hari biasa menjaga UPI Net. Ku lihat jam diponselku menunjukan angka sembilan, kurang lebih satu jam aku menunggu disini. Petugas pun membuka UPI Net, aku pun langsung masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu besar itu. Ku lihat petugas UPI Net itu keluar lagi, “mungkin dia mengambil sesuatu.” Bisikku dalam hati. Ku hidupkan PC yang ada di depaku, ku pikir sambil menunggu petugas UPI Net, mending aku facebookan dulu. Ku buka akun facebookku, ku lihat tidak ada pemberitahuan ataupun status teman yang menarik. Saat itu facebook terasa hambar bagiku, karena yang ku pikirkan hanya laptopku. “ini orang kemana sh? Lama banget.” Aku pun berbicara sendiri. UPI Net pun mulai dipenuhi oleh para mahasiswa yang mencari akses internet gratis, merekapun bertanya kepadaku tentang petugas UPI Net, ku jawab saja “aku tidak tahu.” Lama-lama bosen juga menunggu disini tanpa kepastian, ku pikir mending aku mandi dulu.   

To Be Continue :)